Senin, 29 februari 2016 jam 08.00 wita di aula hotel Galaxi Inn Bau -
Bau telah dilaksanakan sosialisasi dengan mengusung tema " Upaya memutus
mata rantai Radikalisme dan terorisme di sulawesi tenggara (sultra)
melalui pendekatan agama dan kearifan lokal "
Kegiatan dibawakan oleh Empat nara sumber yaitu : AKBP Suryo Aji,SIK,
Kompol Jumsah SPd dari Dit Intelkam Polda Sultra, Dr. laode Abdul
wahab,SAg,M.Pd dari forum komunikasi penanggulangan teroris, dan Dr.
Muhammad Alifuddin,M.Ag Ketua Litbang IAIN, yang dihadiri Walikota Bau
Bau, Pemerintah setempat, Tokoh agama, Toko Pemuda, Mahasiswa dan
Pelajar.
Dir Intelkam Polda Sultra yang diwakili oleh AKBP Erik S Marbun yang
berkesempatan membuka acara sosialisasi tersebut mengatakan, bau - bau
berada di dalam kondisi yang kondusif namun tidak menutup kemungkinan
situasi tersebut menjadi tidak kondusif, seiring dengan perkembangan
situasi dan kondisi yang akhir-akhir ini mengarah kepada desintigrasi
dengan berbagai persitiwa yang bisa saja merambat ke Sulawesi tenggara
khususnya kota bau bau.
“Untuk itu keberdayaan segenap potensi yang ada di masyarakat yang
menjadi kebutuhan mendesak adalah membangun kesadaran public dan
partisifasi masyarakat akan pentingnya situasi yang aman tertib dan
tentram sehingga pembangunan daerah benar-benar merupakan ikhtiar
bersama segenap warga masyarakat dalam mewudjudkan kehidupan yang lebih
baik lagi menuju kemakmuran dan kesejahteraan,” ungkapnya.
Lanjut dia, masalah ini bukanlah masalah yang berdiri sendiri tetapi
terkait masalah yang lain seperti keadilan, penindasan dan kemiskinan.
Dengan demikian diperlukan pendekatan multi dimensi untuk memecahkan
akar masalah tersebut dengan melibatkan berbagai instansi dan tokoh
masyarakat mengingat bahaya radikalisme teroris dan preman, ini sudah
sangat mengancam integritas bangsa bisa menimbulkan ketidak stabilan dan
merusak kerukunan umat beragama.
“Pemberantasan terorisme adalah masalah yang kompleks, hal ini bukan
hanya menjadi tugas kepolisian saja akan tetapi menjadi tugas bersama,
tanpa adanya kesadaran kita bersama akan sangat sulit untuk memberantas
terorisme tersebut,” kata dia
Kurangnya partisifasi masyarakat, bukan saja akan mempersulit
pemberantasannya tetapi juga akan memberikan ruang hidup bagi para
teroris, oleh karena itu peran aktif seluruh lapisan masyarakat dan para
tokoh akan sangat membantu tugas aparat pemerintah terutama dalam
melaksanakan deteksi dini guna mewaspadai munculnya gerakan radikal
serta aktifitas terorisme dan premanisme.
“Untuk itu masyarakat harus memiliki kewaspadaan dini yang merupakan
kondisi kepekaan, kesiagaan dan antisifasi masyarakat dalam menghadapi
potensi dan indikasi timbulnya paham radikalisme, terorisme dan
premanisme yang dapat muncul di tengah-tengah masyarakat,” terangnya.
Dari sosialisasi ini juga akan menambah wawasan dan pengetahuan bagi
peserta dalam upaya meningkatkan kewaspadaan dan keterpaduan
penanggulangan bahaya radikalisme dan terorisme,“Diharapkan dalam upaya
meningkatan kewaspadaan memperkuat koordinasi dan keterpaduan antar
unsur elemen dan masyarakat, sehingga selalu siap dan tanggap dalam
menghadapi berbagai situasi dan kondisi yang dapat merusak kesatuan dan
persatuan di masyarakat,” pungkasnya.